Konsumsi Berlebihan, Bolehkah?

image1

Pada minggu pertama Ramadhan kali ini, Everydayness akan membahas mengenai bagian dari muamalah yang terkait erat dengan kehidupan kita sehari-hari yaitu kaidah konsumsi.

Salah satu prinsip konsumsi dalam Islam adalah berlebih-lebihan kesederhanaan, dimana kita senantiasa tidak berlebih-lebihan dan juga tidak kikir dalam melakukan konsumsi baik mengenai makanan, minuman, pakaian maupun hal-hal lainnya. Kesederhanaan merupakan jalan tengah dari dua gaya hidup ekstrim yaitu paham materialistis yang hidup bermegah-megahan mengikuti hawa nafsu dengan paham zuhud yang menolak kesenangan duniawi sehingga menyiksa diri sendiri. Hal ini sesuai dengan QS. Al Furqan 25: 67 berikut:

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Dalam bulan Ramadhan seperti sekarang ini, ngabuburit dan pasar kaget yang tumpah ruah menjelang waktu berbuka puasa telah menjadi budaya. Segala jajanan yang berderet sungguh menggugah selera apalagi disaat perut kosong saat puasa. Tak jarang dengan kalapnya kita membeli banyak makanan untuk berbuka, sehingga terkadang makanan tersisa pada saat kita selesai berbuka. Jikalau makanan dihabiskan, rasa kantuk yang teramat pun menyerang saat waktu tarawih tiba. Khususnya di bulan Ramadhan, kita dituntut agar mengendalikan hawa nafsu, tidak hanya saat berpuasa tetapi juga saat berbuka puasa sesuai dengan QS. Al-A’raaf 7: 31 berikut:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Adapun kelebihan rezeki berupa uang maupun makanan yang kita miliki akan lebih baik jika disedekahkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Terlebih lagi disaat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, dimana pahala sedang diobral besar-besaran. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa memberi makan seorang yang berpuasa, ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Yang perlu juga diingat dalam ekonomi Islam, setiap konsumsi yang kita lakukan agar senantiasa mencerminkan rasa syukur kita dan mempertebal iman kita kepada Allah SWT. Dikarenakan kemampuan kita untuk mencari bahan konsumsi merupakan karunia-Nya dan bahan konsumsi yang melimpah adalah karunia-Nya sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah 2: 172 berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Semoga kita senantiasa termasuk golongan hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Untuk kaidah konsumsi lainnya, see our next post and follow our page.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s