Prinsip Muamalah, Apa Saja?

SPRINGTIME

Principles of Muamalah

(1) Jika pada fikih ibadah sudah dijelaskan secara terperinci mengenai apa saja ibadah yang dapat dilakukan oleh manusia serta kaidah-kaidah pelaksanaannya, yang dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum dari ibadah adalah wajib sampai ada dalil yang melarangnya.

Hal yang sebaliknya berlaku pada fikih muamalah, dimana disebutkan bahwa pada dasarnya segala bentuk muamalah adalah mubah. Kaidah fikih menjelaskan bahwa:

“Pada dasarnya (asalnya) pada segala sesuatu (pada persoalan mu’amalah) itu hukumnya mubah, kecuali jika ada dalil yang menunjukkan makna atas lainnya.”

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kaidah muamalah akan mengatur hal-hal yang dilarang untuk dilakukan dibanding dengan hal-hal yang wajib dilakukan. Kemudian, apa saja hal yang dilarang tersebut? Hal ini akan dibahas pada artikel-artikel selanjutnya

(2) Prinsip yang kedua dalam kaidah muamalah adalah muamalah dilakukan atas dasar sukarela tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Hal ini didasarkan pada QS An-Nisa: 29 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diri kamu sekalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

(3) Prinsip yang ketiga adalah bawah muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari mudharat dalam bermasyarakat, yang mana dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad & Ibnu Majah:

“Dari Ubadah bin Shamit; bahwasannya Rasulullah SAW menetapkan tidak boleh berbuat kemudharatan dan tidak boleh pula membalas kemudharatan.”

Selain itu, kaidah fiqhiyah juga menyebutkan bahwa “Kemudharatan harus dihilangkan”. Kedua pernyataan tersebut menegaskan prinsip yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa segala bentuk muamalah adalah boleh kecuali yang dilarang yang mana harus mengedepankan adanya manfaat dan menjauhkan dari mudharat yang dapat timbul dari sebuah kegiatan.

(4) Prinsip terakhir yang akan dibahas adalah bahwa muamalah dilaksanakan dengan memelihara nilai-nilai keadilan, menghindari unsur-unsur penganiayaan dalam pengambilan kesempatan, yang mana hal ini dijelaskan di QS Al-Baqarah: 279:

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari mengambil riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Dalil yang dijadikan contoh disini adalah dalil mengenai riba, yang mana merupakan salah satu hal yang dilarang di dalam kaidah muamalah (akan di dijelaskan di bagian-bagian selanjutnya). Ayat tersebut menyatakan bahwa ketika hal yang dilarang di dalam kaidah muamalah ditinggalkan, maka kegiatan tersebut adalah usaha untuk menghindari sesuatu yang aniaya.

Ketika berbicara mengenai hukum muamalah, maka secara spesifik hukum ini merupakan hukum yang mengatur hubungan antara satu pribadi dengan yang lainnya, baik yang menyangkut aturan sipil, perdagangan, keluarga, gugatan hukum, dan sebagainya. Salah satu interaksi antara manusia satu dengan yang lainnya adalah kegiatan perekonomiaan, yang di dalamnya mencakup jual beli, investasi, dan hal lainnya yang berkaitan dengan ekonomi.

Pada Ramadhan kali ini, Everydayness mencoba untuk memberikan informasi mengenai kaidah muamalah dalam kaitannya dengan kegiatan perekonomiaan yaitu apa saja hal yang dilarang dalam kegiatan transaksi sehingga kita semua dapat menghindarinya.

See our next post and follow our page.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s