Konsumsi Haram, Bolehkah?

UNIVERSITY PRESS

Setelah sebelumnya Everydayness membahas konsumsi yang tidak berlebihan, kali ini akan dibahas mengenai dua hal yang harus diamalkan dalam konsumsi yang kita lakukan sehari-hari, yaitu konsumsi yang haram halal dan buruk baik. Karena sebagai muslim salah satu tujuan konsumsi adalah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka etika berkonsumsi perlu diikuti seperti dalam firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah 2: 168:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Dalil diatas menekankan pentingnya mengkonsumsi yang halal dan baik, dimana halal berarti apapun yang kita konsumsi tidak boleh mengandung bahan-bahan, sumber maupun cara mendapatkannya yang haram. Dasar hukum semua makanan adalah halal, kecuali ada dalil yang melarangnya. Diantara bahan makanan yang dilarang adalah bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih dengan nama selain Allah sebagaimana dalil dalam QS. Al Baqarah 2: 173 berikut:

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan nama selain Allah.”

Di era arus informasi yang begitu berkembang, saat ini LPPOM MUI dapat diakses untuk mengecek kehalalan sebuah produk sebelum kita konsumsi, dan juga sudah banyak komunitas di media sosial untuk dapat dijadikan rujukan mengenai produk-produk halal.

Yang tidak kalah pentingnya adalah aspek thayyib (baik) dalam konsumsi. makanan yang baik adalah yang berguna bagi tubuh dan dari sudut kesehatan tidak membahayakan bagi tubuh manusia. Demikian pula dengan konsumsi barang-barang lainnya yang sudah seharusnya tidak memberikan mudharat bagi yang mengkonsumsinya yang ditegaskan dalam QS. Al Maidah 5: 88 berikut:

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, undangan berbuka puasa bersama yang menjadi ajang silaturahim adalah hal yang biasa. Cermatlah dalam memilih tempat berbuka agar senantiasa kita yakin makanan yang dikonsumsi adalah yang halal dan buka puasa kita penuh keberkahan.

Dengan menerapkan dua kaidah konsumsi ini, diharapkan setiap konsumsi yang kita lakukan mendapatkan berkah, memberi banyak kebaikan, menjadi wujud raja syukur dan menjadi jalan ketakwaan kita kepada Allah SWT sebagaimana dalil berikut:

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An Nahl 16: 114)

Semoga kita senantiasa termasuk golongan hamba-Nya yang penuh dengan rasa syukur dan dijauhi dari segala sesuatu yang haram.

Untuk kaidah konsumsi lainnya, see our next post and follow our page.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s